“Guru Bukan Teman Sebaya”

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan menghadapi fenomena yang perlu dikritisi secara jujur: kaburnya batas profesional antara guru dan peserta didik. Kedekatan yang awalnya dimaksudkan untuk menciptakan pembelajaran yang humanis, pada praktiknya sering melampaui batas kewajaran.

Tidak sedikit guru yang berupaya keras membangun citra sebagai sosok yang friendship, santai, dan “guru asik”. Sayangnya, upaya tersebut kerap mengorbankan hal yang jauh lebih penting: wibawa, keteladanan, dan fungsi pendidikan itu sendiri.

Ketika Guru Terlalu Ingin Disukai

Keinginan guru untuk disukai peserta didik adalah hal yang manusiawi. Namun, persoalan muncul ketika validasi dari peserta didik menjadi tujuan tersembunyi dalam proses pembelajaran. Guru mulai menahan teguran, mengendurkan disiplin, dan membiarkan pelanggaran kecil demi menjaga citra sebagai guru yang menyenangkan.

Di titik inilah peran guru mengalami pergeseran:

  • dari pendidik menjadi “teman ngobrol”,
  • dari pembimbing menjadi penghibur,
  • dari figur teladan menjadi pencari pengakuan.

Pendidikan yang seharusnya membentuk karakter justru kehilangan arah karena guru takut dianggap tidak asik.

Kedekatan yang Menggerus Etika

Kedekatan tanpa batas bukan hanya berdampak pada menurunnya disiplin, tetapi juga menggerus etika relasi guru dan peserta didik. Bahasa yang terlalu bebas, candaan berlebihan, serta interaksi personal di luar konteks pendidikan menciptakan ruang abu-abu yang berbahaya.

Dalam konteks ini, penting untuk disadari bahwa:

Guru tidak sedang membangun pertemanan, tetapi membentuk manusia.

Ketika batas profesional dilanggar, peserta didik kehilangan figur otoritatif yang seharusnya menjadi rujukan nilai, bukan sekadar figur yang menyenangkan.

Tantangan Serius di Era Digital

Di era media sosial dan komunikasi instan, kedekatan guru dan peserta didik semakin sulit dikontrol. Interaksi yang tidak terjaga berpotensi menimbulkan:

  • salah tafsir komunikasi,
  • pelanggaran etika profesi,
  • hingga persoalan hukum dan institusional.

Sekolah dan madrasah bukan hanya ruang belajar, tetapi juga institusi yang menjunjung tinggi nilai moral, keamanan, dan profesionalisme. Guru yang gagal menjaga jarak profesional sesungguhnya tidak hanya mempertaruhkan dirinya, tetapi juga nama baik lembaga pendidikan.

Dekat Boleh, Larut Jangan

Menjaga jarak bukan berarti bersikap dingin. Guru tetap harus hadir secara empatik, memahami kondisi psikologis peserta didik, dan membangun komunikasi yang sehat. Namun, empati tanpa batas adalah kelalaian, dan keakraban tanpa prinsip adalah kesalahan.

Guru yang profesional memahami bahwa:

  • kedekatan adalah sarana, bukan tujuan,
  • disiplin adalah bentuk kepedulian,
  • ketegasan adalah bagian dari kasih sayang.

Guru Dibutuhkan untuk Mendidik, Bukan Menghibur

Sekolah tidak membutuhkan guru yang populer, tetapi guru yang konsisten dalam nilai. Peserta didik mungkin akan menikmati guru yang terlalu santai, tetapi mereka akan tumbuh lebih baik di bawah bimbingan guru yang jelas batasnya, adil sikapnya, dan kuat keteladanannya.

Sejarah pendidikan tidak mencatat guru yang “paling asik”, tetapi guru yang berani menjaga prinsip di tengah tekanan zaman.

Penutup

Sudah saatnya dunia pendidikan kembali menegaskan batas. Guru tidak boleh terlalu dekat dengan peserta didik, bukan karena kurang peduli, tetapi karena tanggung jawab moral dan profesional yang besar. Kedekatan yang terukur akan melahirkan rasa hormat, sementara kedekatan yang berlebihan justru menghilangkan makna pendidikan itu sendiri.

Guru sejati tidak mengejar tepuk tangan peserta didik hari ini, tetapi menanamkan nilai yang akan mereka kenang seumur hidup.

Bagikan :

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

“Guru Bukan Teman Sebaya”
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan menghadapi fen...
Esensi Menjadi Guru Saat Ini Buk...
Dalam dinamika dunia pendidikan yang terus bergerak mengikuti ...
Hakikat dan Pentingnya Puasa: Le...
Makna Puasa: Ibadah yang Lebih dari Sekadar Lapar dan Dahaga P...
OUTING CLASS
Kegiatan Outing Class MTs Darunna’im Yapia: Menjelajahi ...
REFLEKSI
PENYEBAB GAGALNYA KETERATURAN DAN KEPATUHAN MURID DI SEKOLAH P...
Hari Guru: Menghidupkan Semangat...
Hari Guru: Menghidupkan Semangat “Ing Ngarsa Sung Tuladh...

Temukan Kami

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

Hubungi kami di : 081381997885

Kirim email ke kamimtsdarunnaimyapia@gmail.com

Temukan Kami

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman